Dikala hujan tak henti hentinya menyirami daerah Mampangprapatan. Saat itu bersama dengan temanku Maryani Pardede harus menduplikat kunci gerbang kosan dan itu sekitar jam 6 sore lebih, dikarenakan hujan dan sore hari yang hampir malam , tukang duplikat kuncinya sudah pulang, kami memutuskan untuk membeli soto saja di warteg dekat kosan. ehh si ibu tukang warteg bilangnya kalo sotonya tinggal 1 porsi lagi, sewatu aku ngelihat ayam bakar, saat itu aku langsung tergiur dan pengen makan itu coz gerimisnya sangat mendukung untuk itu, pas ibu wartegnya lagi ngebungkus nasi, aku dan Maryani melihat seorang kakek-kakek yang munkin sedikit kehujanan lagi makan di warteg itu. ntah kenapa saat itu aku terus memandangi si kakek tersebut, cara makannya, cara duduknya, cara menyendok nasi ke mulutnya (tidak menjengkal) seperti pengemis yang baru dikasih makan.
blog populer
-
Untuk beberapa alasan hari ini aku lelah dan lelah . Sisa sendirian di kamarku , memeluk bantal . Menyentuh ponse lku yang tid...
-
Berfikir untuk melakukan sesuatu memang sangat mudah bagiku Tapi ntah mengapa untuk berbuat yang kupikirkan sangatlah susah Se...
-
Mencegah kantuk saat tugas menumpuk Hari ini Aku akan membagi sedikit info tentang cara ki...
-
Gini nih, kalau mau ujian,nyari SOURCE CODE udah ngeHITS di sekitarku.. PENGEMIS Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi s...
-
God .. bless this day God , I pray to thee, keep my family safe for me. protect their souls and comfort their hearts, And never let ...
-
Congratulations, Graduates.. New beginning, New chapter, New endeavors, New challenge...
-
Saat jari tangan kiriku memukul-mukul meja, tangan kananku menopang daguku, tandanya aku sedang menunggu, mmenunggu saat akun sosmedku terbu...
Minggu, 14 Februari 2016
Kado Valentine
Hari ini tanggal 14 Feb 2016
Dikala hujan tak henti hentinya menyirami daerah Mampangprapatan. Saat itu bersama dengan temanku Maryani Pardede harus menduplikat kunci gerbang kosan dan itu sekitar jam 6 sore lebih, dikarenakan hujan dan sore hari yang hampir malam , tukang duplikat kuncinya sudah pulang, kami memutuskan untuk membeli soto saja di warteg dekat kosan. ehh si ibu tukang warteg bilangnya kalo sotonya tinggal 1 porsi lagi, sewatu aku ngelihat ayam bakar, saat itu aku langsung tergiur dan pengen makan itu coz gerimisnya sangat mendukung untuk itu, pas ibu wartegnya lagi ngebungkus nasi, aku dan Maryani melihat seorang kakek-kakek yang munkin sedikit kehujanan lagi makan di warteg itu. ntah kenapa saat itu aku terus memandangi si kakek tersebut, cara makannya, cara duduknya, cara menyendok nasi ke mulutnya (tidak menjengkal) seperti pengemis yang baru dikasih makan.
Si Kake hanya membeli tahu sebagai lauknya di temani dengan sambal, ntah berapa harganya itu aku pun tak tau. Saat nge-lihat kakek tadi air mata-ku hampir jatuh. terus aku langsung mengadu kepada temanku si Maryani, "Pirr.. kau lihat si-oppungitu..?"..ternyata yang kurasakan sama dengan yang di rasakan oleh temanku.(disaat aku berfikir pengen makan ayam bakar) aku terlalu PAYAH untuk tau bahwa itu adalah tanda/sign dari Tuhan, munkin Tuhan bilang "Anakku bereng ma si Oppung, adong dope perasaanmu menuhor ayam bakar..?" dari situ aku mendapat suatu pembelajaran bahwa ini adalah hadian di hari vanlentine yang ku dapat. Masih ada yang lebih prihatin dibandingkan diriku sendiri yang selalu mengeluh dengan keadaanku yang sekarang. aku mngeluh ini, aku mengeluh itu...
Dikala hujan tak henti hentinya menyirami daerah Mampangprapatan. Saat itu bersama dengan temanku Maryani Pardede harus menduplikat kunci gerbang kosan dan itu sekitar jam 6 sore lebih, dikarenakan hujan dan sore hari yang hampir malam , tukang duplikat kuncinya sudah pulang, kami memutuskan untuk membeli soto saja di warteg dekat kosan. ehh si ibu tukang warteg bilangnya kalo sotonya tinggal 1 porsi lagi, sewatu aku ngelihat ayam bakar, saat itu aku langsung tergiur dan pengen makan itu coz gerimisnya sangat mendukung untuk itu, pas ibu wartegnya lagi ngebungkus nasi, aku dan Maryani melihat seorang kakek-kakek yang munkin sedikit kehujanan lagi makan di warteg itu. ntah kenapa saat itu aku terus memandangi si kakek tersebut, cara makannya, cara duduknya, cara menyendok nasi ke mulutnya (tidak menjengkal) seperti pengemis yang baru dikasih makan.
